Langsung ke konten utama

Busy busy busy

Assalamualaikum semua ...

Balik lagi gue ke aktiftas kampus setelah kemarin sibuk dengan kegiatan PPLK, jadi guru gitu. Liburan yang udah gue ancang-ancang dari jauh hari berakhir tanpa harapan. Ternyata gue udah ditunggu setumpuk aktifitas kampus, praktek industri lah, tugas RIRE, etc.

Tugas yang dibikin ampe begadang bareng nyamuk alhasil jadi kertas bungkus teri, hahaha. Tapi tak apa, masih muda, semangat masih jreng bro.

Ngomong-ngomong soal tugas, gue dapat info baru yang gak gue ketahui sebelumnya. Materi yang gue cari namanya Electrical Capacitance Volume Tomography, dan yang hebringnya nih bray, yang menemukan teknologi ini namanya Pak Warsito, orang Indonesia yang udah melalang buana di dunia Internasional.

Terlahir dari kalangan sosial petani gak membuat Pak Warsito patah arang. Buktinya beliau bisa kuliah di Jepang sampai S3 dengan bantuan beasiswa dan jadi peneliti di Ohio University.

Berikut teknologi yang udah beliau ciptakan bersama rekan-rekannya.


Siapa Sebenarnya Warsito? 


 


TEMPO.CO, Jakarta - Sebagai penemu kutang pembunuh kanker, nama Warsito Purwo Taruno kian melambung. Sebelumnya, pria 44 tahun ini juga menemukan alat pemintai atau tomografi berbasis medan listrik.

Nama Warsito sudah mendunia karena temuan teknologi tomografi medan listrik (
electrical capacitance volume tomography, ECVT) empat dimensi (4D). Tomografi adalah teknologi pemindai obyek tanpa harus menyentuh bendanya. "Empat dimensi dimaknai sebagai tiga dimensi ruang (volume) dan satu dimensi waktu, karena obyeknya bergerak," ujarnya.

Ini merupakan terobosan besar dalam teknik memindai, karena ECVT mampu memindai 3D (volumetrik) dengan obyek bergerak berkecepatan tinggi. Teknologi pemindai semacam CT Scan dan MRI menjadi terlihat kuno. Pasalnya, dua alat itu sekadar menghasilkan citra dua atau tiga dimensi dengan obyek tidak bergerak. Aplikasinya sangat luas, dari reaktor di pabrik, tubuh manusia, obyek berskala nano, hingga perut Bumi.

Warsito mulai membuat pemindai itu ketika ia mengajar di Ohio State University, Amerika, pada 2001, setelah hijrah dari Jepang pada 1999. Pada 2003, di tengah kariernya yang cemerlang di Amerika, satu dari 15 peneliti terkemuka yang menjadi anggota Industrial Research Consortium itu memutuskan menyempurnakan alatnya di Tanah Air.

Ia mendirikan Centre for Tomography Research Laboratory (Ctech Labs) Edwar Technology dan rela pulang-balik Indonesia-Ohio untuk mengajar di universitas tersebut. Di laboratorium yang berdiri di rumah toko Modern Land, Tangerang, Banten, itulah ia berhasil menciptakan ECVT-nya pada 2004.

Pada 2006, ia sudah menerima paten atas temuannya itu dari biro paten Amerika. ECVT-nya telah dibeli berbagai lembaga, termasuk NASA, yang memakainya untuk memindai keretakan dinding pesawat. Untuk Indonesia, ia membuat Sona CT Scanner, yakni pemindai ultrasonik untuk memeriksa dinding tabung gas bertekanan tinggi yang digunakan pengelola bus Transjakarta.

Ayah empat anak ini tidak sombong meski punya reputasi mendunia. “Saya senang bisa menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama,” ujar suami dari Rita Cherunnisa ini.

Warsito juga pernah menolak tiga gelar profesor dari tiga universitas tersohor di berbagai negara. Alasannya, “Saya tidak membutuhkan itu.” Berbagai penghargaan pernah diraih pria kelahiran Karanganyar itu, termasuk menjadi Tokoh TEMPO 2006.

Ia bertekad untuk mengabdikan pengetahuan dan ilmunya untuk dunia riset, bukan mengejar jabatan tertentu. “Siapa pun bisa duduk di jabatan tertentu. Tapi kalau riset, siapa yang mau mengembangkan?” katanya. “Bagi saya, secangkir kopi sudah cukup.”


Udah ya, sekian saja, semoga dunia teknologi Indonesia semakin maju.

Terima kasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Jepretan Mini DV

Malem guys, kalo kamu baca nya siang ya udah gapapa, yang penting ane nge post udah tengah malam. Bodo amat, kenal juga gak *bintangtimurstyle Okeh epribadih, kali ini saya ditemani netbook baru ASUS Notebook X201E-KX161D - White  plus HUAWEI USB Modem [K3765]  cuma mau share dan upload hasil dari kamera TAFF Mini DV saya yang saya beli beberapa waktu yang lalu. Nah, ini kamera nya Kecil mungil, iye, awalnya kecewa, gila, ini mainan ya? Ish pas gue pake, mantep bener bro, gak kalah ama camdig ato SLR. Ini dia beberapa hasil jeprtan saya, Nah, gimana sob? Keren kan? Menurut saya sih keren abiis. Dari kekecewaan soal kamera yang super mungil berubah menjadi kekaguman. Yah walaupun gak kebeli SLR, menurut saya cukup lah Mini DV menjadi instrumen fotografi saya, walau gak jago-jago amat. Seperti kata-kata bijak fotografer, Biar Foto yang Bicara. Tapi ada beberapa teknik yang saya pelaja...

Cara Buka Coffee Stall Modal 5 Juta: Berdasarkan Pengalaman Pribadi & Panduan Praktis

Banyak orang berpikir membuka usaha kopi butuh modal puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal, kenyataannya tidak harus begitu. Dulu, saat pertama kali terjun ke bisnis kopi, boro-boro saya kepikiran membuat cafe yang estetis. Saya memulainya dari bawah: jualan kopi botolan dari rumah, murni hanya mengandalkan pesanan via GoFood dan GoSend. Peralatannya? Ya seadanya saja. Tapi ternyata, pelan-pelan orderan mulai stabil dan makin ramai. Dari putaran keuntungan jualan kopi botolan itu, saya memberanikan diri untuk upgrade dengan membuka booth kontainer kecil-kecilan. Respon pasarnya ternyata luar biasa! Antusiasme pembeli yang tinggi akhirnya menarik minat seorang teman untuk ikut memberikan suntikan investasi. Dari sana, booth kontainer itu perlahan berevolusi menjadi sebuah outlet permanen berukuran 3x5 meter, lengkap dengan area outdoor 3x10 meter untuk tempat pelanggan nongkrong santai. Perjalanan itu menyadarkan saya pada satu prinsip penting: mulai saja dulu dari yang keci...

Cerpen: Sebelah Kursi, Sepotong Hati

Langit Payakumbuh belum terlalu terang ketika Rangga menaiki sebuah Isuzu Elf milik PO Ayah, yang akan membawanya menuju Bukittinggi, lalu lanjut ke Padang. Kursi di sampingnya masih kosong saat bus melaju perlahan meninggalkan suara pasar dan bau tanah basah selepas hujan semalam. Tak lama, seorang gadis duduk di sebelahnya. Wajahnya teduh, berhijab, kulitnya cerah, dan matanya besar. Ia menatap jendela sejenak, lalu menyapa sopan saat Rangga mengangguk memberi ruang. “Dari Payakumbuh juga?” tanya Dika membuka percakapan. “Iya, kuliah di Bukittinggi,” jawabnya dengan suara lembut. Namanya Dina. Obrolan mereka mengalir. Basa-basi awal berubah menjadi tanya jawab yang lebih santai. Mereka bercerita tentang kuliah, keluarga, makanan favorit, dan mimpi masa depan. Tidak ada yang berlebihan, tapi juga tidak dibuat-buat. Kadang keduanya saling melempar lelucon. Dina tertawa pelan, menutup mulutnya sambil mencuri pandang ke arah Rangga. Ia tak menyangka akan merasa nyaman dengan orang a...