Langsung ke konten utama

Konsep Pintar Seorang Inovator

Selamat malam sobat blogger. Rasanya sudah lebih dari satu bulan saya tidak mampir untuk membuat postingan disini. Kebetulan beberapa saat ini saya agak disibukkan dengan kegiatan lain.

Malam ini saya akan berbagi ilmu dengan sobat blogger semua tentang beberapa hal yang selama ini saya pelajari. Saya mungkin tidak banyak belajar dari buku, tapi saya lebih banyak belajar dari pengalaman orang lain yang sudah sukses, yang berhasil keluar dari masalah, yang berhasil menjadi inovator dan yang berhasil mengubah dunia.

Kali ini saya mengangkat sebuah konsep milik seorang inovator asal Indonesia, Yoris Sebastian. Saya banyak belajar dari beliau walau saya tidak pernah bertemu langsung dengannya. Saya menganggap beliau sebagai guru saya walau beliau tak pernah tahu kalau saya adalah muridnya.



Konsep Yoris Sebastian yang saya pakai adalah 70:20:10. Apa yang anda bayangkan saat melihat angka-angka ini? Saya sendiri awalnya langsung membayangkan persentase, karena semua jumlahnya adalah 100, dan saya benar. Tetapi ada yang tidak saya sadari, apa maksud dari angka-angka ini. Apakah ini ketetapan seorang ilmuwan? Apakah ini merupakan hasil kreasi seorang seniman? Atau ini sebuah kombinasi angka dalam sebuah pemrograman komputer?

70:20:10 ternyata adalah sebuah konsep kesetimbangan yang diciptakan oleh Yoris. Saya akan menjelaskannya satu persatu.

  • 70% hidupmu gunakan untuk hal yang biasa kamu lakukan, dengan dampak yang biasa. <level normal>
  • 20% hidupmu gunakan untuk hal yang kreatif, dengan dampak yang sedang. Resiko dan manfaat yang tidak teralu besar <level sedang>.
  • 10% hidupmu (saya rasa anda sudah tahu kelanjutannya) gunakan untuk hal yang kreatif, inovatif, berbeda, dengan dampak yang besar. <level tinggi>
Saya sendiri lebih suka menyebut 10% dengan sebutan "gila-gilaan". Dalam konsep milik Yoris ini pun, Yoris menyebutkan, jika dilakukan dengan matang maka 10% tadi bisa berdampak 90%.

Pesan saya kepada teman-teman blogger semua. Jangan takut untuk memulai. Jika masih berpikir apakah ini waktu yang tepat? Jawabannya cuma satu "You have to try it".

Terima Kasih sobat blogger dan sampai jumpa di postingan selanjutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Jepretan Mini DV

Malem guys, kalo kamu baca nya siang ya udah gapapa, yang penting ane nge post udah tengah malam. Bodo amat, kenal juga gak *bintangtimurstyle Okeh epribadih, kali ini saya ditemani netbook baru ASUS Notebook X201E-KX161D - White  plus HUAWEI USB Modem [K3765]  cuma mau share dan upload hasil dari kamera TAFF Mini DV saya yang saya beli beberapa waktu yang lalu. Nah, ini kamera nya Kecil mungil, iye, awalnya kecewa, gila, ini mainan ya? Ish pas gue pake, mantep bener bro, gak kalah ama camdig ato SLR. Ini dia beberapa hasil jeprtan saya, Nah, gimana sob? Keren kan? Menurut saya sih keren abiis. Dari kekecewaan soal kamera yang super mungil berubah menjadi kekaguman. Yah walaupun gak kebeli SLR, menurut saya cukup lah Mini DV menjadi instrumen fotografi saya, walau gak jago-jago amat. Seperti kata-kata bijak fotografer, Biar Foto yang Bicara. Tapi ada beberapa teknik yang saya pelaja...

Cara Buka Coffee Stall Modal 5 Juta: Berdasarkan Pengalaman Pribadi & Panduan Praktis

Banyak orang berpikir membuka usaha kopi butuh modal puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal, kenyataannya tidak harus begitu. Dulu, saat pertama kali terjun ke bisnis kopi, boro-boro saya kepikiran membuat cafe yang estetis. Saya memulainya dari bawah: jualan kopi botolan dari rumah, murni hanya mengandalkan pesanan via GoFood dan GoSend. Peralatannya? Ya seadanya saja. Tapi ternyata, pelan-pelan orderan mulai stabil dan makin ramai. Dari putaran keuntungan jualan kopi botolan itu, saya memberanikan diri untuk upgrade dengan membuka booth kontainer kecil-kecilan. Respon pasarnya ternyata luar biasa! Antusiasme pembeli yang tinggi akhirnya menarik minat seorang teman untuk ikut memberikan suntikan investasi. Dari sana, booth kontainer itu perlahan berevolusi menjadi sebuah outlet permanen berukuran 3x5 meter, lengkap dengan area outdoor 3x10 meter untuk tempat pelanggan nongkrong santai. Perjalanan itu menyadarkan saya pada satu prinsip penting: mulai saja dulu dari yang keci...

Cerpen: Sebelah Kursi, Sepotong Hati

Langit Payakumbuh belum terlalu terang ketika Rangga menaiki sebuah Isuzu Elf milik PO Ayah, yang akan membawanya menuju Bukittinggi, lalu lanjut ke Padang. Kursi di sampingnya masih kosong saat bus melaju perlahan meninggalkan suara pasar dan bau tanah basah selepas hujan semalam. Tak lama, seorang gadis duduk di sebelahnya. Wajahnya teduh, berhijab, kulitnya cerah, dan matanya besar. Ia menatap jendela sejenak, lalu menyapa sopan saat Rangga mengangguk memberi ruang. “Dari Payakumbuh juga?” tanya Dika membuka percakapan. “Iya, kuliah di Bukittinggi,” jawabnya dengan suara lembut. Namanya Dina. Obrolan mereka mengalir. Basa-basi awal berubah menjadi tanya jawab yang lebih santai. Mereka bercerita tentang kuliah, keluarga, makanan favorit, dan mimpi masa depan. Tidak ada yang berlebihan, tapi juga tidak dibuat-buat. Kadang keduanya saling melempar lelucon. Dina tertawa pelan, menutup mulutnya sambil mencuri pandang ke arah Rangga. Ia tak menyangka akan merasa nyaman dengan orang a...