Langsung ke konten utama

FN Street Hunting 2014 (Padang)

Assalamualaikum

Tanggal 2 November 2014 kemarin saya dan teman-teman pecinta street photography yang tergabung dalam Street Photo Hunter Padang ikut berpartisipasi dalam event FotograferNet Street Hunting 2014.

Ini adalah kali pertama bagi saya ikut acara FN, sebelumnya abstain soalnya belum ada gabung-gabung komunitas manapun dan masih berkutat dengan audio. Tahun 2013 adalah tahun saya mencoba fokus di fotografi dan meninggalkan audiografi (sementara waktu).

Bah, intronya panjang kali ini. Haha lanjut ke inti saja lah lai. Nah, acaranya dibikin dua hari oleh Street Photo Hunter Padang. Tanggal 1 diskusi foto di Akeo Art, pembicara nya saya. Lha gak mudeng ini, padahal saya masih baru di dunia fotografi. Tapi gapapa lah, saya cuma menyampaikan apa yang pernah saya pelajari dari berbagai forum dan fotografer street yang sudah profesional seperti Henri Cartier-Bresson, Robert Capa dan Eric Kim. Semua nya idola saya. Bagi teman-teman yang ingin bahan dan penjelasannya silahkan langsung kontak saya. Saya merangkum semuanya mulai dari sejarah Street Photography, fotografer yang berpengaruh, kamera yang digunakan, komposisi foto dan tips trik.

Lanjut ke tanggal 2, Street Hunting diadakan dengan meeting point Taman Budaya Padang. Sebelum berangkat narsis dulu. Yah walau cuaca mulai gelap, tak apa, ngaspal tetap berlanjut.


Narsisnya selesai, hunting dimulai. Rute dimulai dari Taman Budaya - Plaza Andalas - Pemuda - Mesin Hujan - Taplau - Kembali ke Taman Budaya. Baru berangkat dari Taman Budaya ke Plaza Andalas udah hujan sih. Tapi apa mau dikata, harus lanjut sampai garis finish. Jadi saya namakan saja ini namanya Hunting basah-basah.

Berikut beberapa foto yang saya ambil, kamera sederhana, fotonya sederhana dan yang ngambil orang yang sederhana juga.







Terima kasih atas waktunya, hanya jepretan biasa, namun saya senang melakukannya.

Foto-foto dari teman-teman saya lainnya dapat dilihat di Album Upload Foto FN Street Hunting.

Wassalam.

twitter: @choukyin 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Jepretan Mini DV

Malem guys, kalo kamu baca nya siang ya udah gapapa, yang penting ane nge post udah tengah malam. Bodo amat, kenal juga gak *bintangtimurstyle Okeh epribadih, kali ini saya ditemani netbook baru ASUS Notebook X201E-KX161D - White  plus HUAWEI USB Modem [K3765]  cuma mau share dan upload hasil dari kamera TAFF Mini DV saya yang saya beli beberapa waktu yang lalu. Nah, ini kamera nya Kecil mungil, iye, awalnya kecewa, gila, ini mainan ya? Ish pas gue pake, mantep bener bro, gak kalah ama camdig ato SLR. Ini dia beberapa hasil jeprtan saya, Nah, gimana sob? Keren kan? Menurut saya sih keren abiis. Dari kekecewaan soal kamera yang super mungil berubah menjadi kekaguman. Yah walaupun gak kebeli SLR, menurut saya cukup lah Mini DV menjadi instrumen fotografi saya, walau gak jago-jago amat. Seperti kata-kata bijak fotografer, Biar Foto yang Bicara. Tapi ada beberapa teknik yang saya pelaja...

Cara Buka Coffee Stall Modal 5 Juta: Berdasarkan Pengalaman Pribadi & Panduan Praktis

Banyak orang berpikir membuka usaha kopi butuh modal puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal, kenyataannya tidak harus begitu. Dulu, saat pertama kali terjun ke bisnis kopi, boro-boro saya kepikiran membuat cafe yang estetis. Saya memulainya dari bawah: jualan kopi botolan dari rumah, murni hanya mengandalkan pesanan via GoFood dan GoSend. Peralatannya? Ya seadanya saja. Tapi ternyata, pelan-pelan orderan mulai stabil dan makin ramai. Dari putaran keuntungan jualan kopi botolan itu, saya memberanikan diri untuk upgrade dengan membuka booth kontainer kecil-kecilan. Respon pasarnya ternyata luar biasa! Antusiasme pembeli yang tinggi akhirnya menarik minat seorang teman untuk ikut memberikan suntikan investasi. Dari sana, booth kontainer itu perlahan berevolusi menjadi sebuah outlet permanen berukuran 3x5 meter, lengkap dengan area outdoor 3x10 meter untuk tempat pelanggan nongkrong santai. Perjalanan itu menyadarkan saya pada satu prinsip penting: mulai saja dulu dari yang keci...

Cerpen: Sebelah Kursi, Sepotong Hati

Langit Payakumbuh belum terlalu terang ketika Rangga menaiki sebuah Isuzu Elf milik PO Ayah, yang akan membawanya menuju Bukittinggi, lalu lanjut ke Padang. Kursi di sampingnya masih kosong saat bus melaju perlahan meninggalkan suara pasar dan bau tanah basah selepas hujan semalam. Tak lama, seorang gadis duduk di sebelahnya. Wajahnya teduh, berhijab, kulitnya cerah, dan matanya besar. Ia menatap jendela sejenak, lalu menyapa sopan saat Rangga mengangguk memberi ruang. “Dari Payakumbuh juga?” tanya Dika membuka percakapan. “Iya, kuliah di Bukittinggi,” jawabnya dengan suara lembut. Namanya Dina. Obrolan mereka mengalir. Basa-basi awal berubah menjadi tanya jawab yang lebih santai. Mereka bercerita tentang kuliah, keluarga, makanan favorit, dan mimpi masa depan. Tidak ada yang berlebihan, tapi juga tidak dibuat-buat. Kadang keduanya saling melempar lelucon. Dina tertawa pelan, menutup mulutnya sambil mencuri pandang ke arah Rangga. Ia tak menyangka akan merasa nyaman dengan orang a...