Langsung ke konten utama

My First Photo Book - Mobile Photography

Selamat pagi sobat blogger.

Beberapa jam yang lalu saya baru saja mengupload photo book yang baru saja saya selesaikan desainnya di booksmart ke blurb.com.


Ini adalah kali pertama saya membuat sebuah photo book. Awalnya saya tahu blurb.com dari kujaja.com. Saat itu saya ikut dalam event One Minute On Earth di kujaja.com. Kujaja merangkum beberapa foto dari fotografer yang ikut dan menjadikannya sebuah buku yang diupload ke blurb.com.

Dari sana saya mulai penasaran. Apa sih blurb ini? Saya mencoba googling dan menemukan beberapa ulasan mengenai blurb. Waktu itu saya mencoba menggunakan aplikasi BookWright untuk membuat desain bukunya. Namun BookWright ternyata sangat sulit digunakan, bahkan tampilannya tidak sesuai dengan ukuran laptop saya sehingga tidak semua tampilan yang kelihatan. Saya jadi kesulitan dalam merancang buku tersebut.

Setahun setelahnya, tepatnya di awal tahun 2015 saya mencoba mencari cara membuat photo book di blurb.com, dan hasilnya saya mendapatkan sesuatu yang baru. Blurb tak lagi menggunakan BookWright, BookWright berganti dengan BookSmart yang sangat mudah digunakan. Ada aplikasi lain yang bisa digunakan untuk membuat photo book di blurb.com seperti Adobe InDesign dan Adobe Lightroom, namun saya lebih mudah menggunakan BookSmart. Sebenarnya saya memiliki Adobe Lightroom 1.1 namun untuk membuat photo book harus menggunakan Adobe Lightroom 4 atau 5.

Saya mencoba mencari tema yang cocok untuk buku pertama ini, dan saya mendapatkan inspirasi dari Go Ahead People dan Mobile Photography Awards yang saya ikuti di internet. Lahirlah sebuah buku dengan judul Mobile Photography dengan sub-title Photography Using Smartphone Camera. Disana saya memasukkan beberapa hasil foto yang saya buat selama 2 tahun terakhir menggunakan kamera ponsel Andromax C 2MP. Yah memang resolusi yang kecil namun saya tetap pede setelah beberapa foto yang saya ambil dengan kamera ponsel ini berhasil masuk galeri foto Kofipon Indonesia, Indonesia On The Streets dan Fotografi Jalanan Malaysia.

Saya mengupload nya ke blurb setelah selesai membuat desainnya di BookSmart. Sistemnya begini, kita cuma perlu membuat layout dan desainnya saja, termasuk konten tentunya. Nanti blurb yang akan mencetaknya jika ada pemesanan. Dag dig dug, begitulah rasanya saat proses upload berjalan. Setelah selesai saya melengkapi keterangan buku tersebut. Namun saya menemui kendala yang sebelumnya tidak saya perkirakan, kata Yoris Sebastian di buku Creative Junkies, itu namanya resiko yang tidak terduga.

Saya tidak memiliki kartu kredit, yah itulah salah satu hal yang tidak saya pikirkan sebelumnya. Saya masih bisa menggunakan Paypal tentunya, karena saya punya akunnya walau belum diverifikasi. Kemudian saat buku selesai saya lengkapi dengan keterangan-keterangan yang diminta blurb, ada satu hal lagi yang terjadi. Saya harus mengorder buku tersebut, saya pun mengorder buku saya. Namun sekali lagi, pembayaran lewat kartu kredit dan Paypal membuat semuanya terganjal. Saya tidak memiliki uang di dalam Paypal saya. Saya mencoba mencari tahu bagaimana cara memasukkan uang ke Paypal dari Bank Lokal. Ternyata prosesnya panjang dan membutuhkan waktu selama beberapa bulan. 

Yah, mungkin buku tersebut hanya akan bertahan dalam waktu setengah bulan di blurb. Tapi saya akhirnya senang, saya sudah membuat sebuah photo book. Next time saya akan mempersiapkan semuanya dengan lebih matang karena saya sudah mendapatkan banyak informasi dari photo book pertama ini.

Buat kamu yang ingin melihat photo book saya di blurb.com silahkan kunjungi link ini, http://www.blurb.com/b/5995155-mobile-photography.

Terima kasih dan sampai jumpa di cerita saya berikutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Jepretan Mini DV

Malem guys, kalo kamu baca nya siang ya udah gapapa, yang penting ane nge post udah tengah malam. Bodo amat, kenal juga gak *bintangtimurstyle Okeh epribadih, kali ini saya ditemani netbook baru ASUS Notebook X201E-KX161D - White  plus HUAWEI USB Modem [K3765]  cuma mau share dan upload hasil dari kamera TAFF Mini DV saya yang saya beli beberapa waktu yang lalu. Nah, ini kamera nya Kecil mungil, iye, awalnya kecewa, gila, ini mainan ya? Ish pas gue pake, mantep bener bro, gak kalah ama camdig ato SLR. Ini dia beberapa hasil jeprtan saya, Nah, gimana sob? Keren kan? Menurut saya sih keren abiis. Dari kekecewaan soal kamera yang super mungil berubah menjadi kekaguman. Yah walaupun gak kebeli SLR, menurut saya cukup lah Mini DV menjadi instrumen fotografi saya, walau gak jago-jago amat. Seperti kata-kata bijak fotografer, Biar Foto yang Bicara. Tapi ada beberapa teknik yang saya pelaja...

Cara Buka Coffee Stall Modal 5 Juta: Berdasarkan Pengalaman Pribadi & Panduan Praktis

Banyak orang berpikir membuka usaha kopi butuh modal puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal, kenyataannya tidak harus begitu. Dulu, saat pertama kali terjun ke bisnis kopi, boro-boro saya kepikiran membuat cafe yang estetis. Saya memulainya dari bawah: jualan kopi botolan dari rumah, murni hanya mengandalkan pesanan via GoFood dan GoSend. Peralatannya? Ya seadanya saja. Tapi ternyata, pelan-pelan orderan mulai stabil dan makin ramai. Dari putaran keuntungan jualan kopi botolan itu, saya memberanikan diri untuk upgrade dengan membuka booth kontainer kecil-kecilan. Respon pasarnya ternyata luar biasa! Antusiasme pembeli yang tinggi akhirnya menarik minat seorang teman untuk ikut memberikan suntikan investasi. Dari sana, booth kontainer itu perlahan berevolusi menjadi sebuah outlet permanen berukuran 3x5 meter, lengkap dengan area outdoor 3x10 meter untuk tempat pelanggan nongkrong santai. Perjalanan itu menyadarkan saya pada satu prinsip penting: mulai saja dulu dari yang keci...

Cerpen: Sebelah Kursi, Sepotong Hati

Langit Payakumbuh belum terlalu terang ketika Rangga menaiki sebuah Isuzu Elf milik PO Ayah, yang akan membawanya menuju Bukittinggi, lalu lanjut ke Padang. Kursi di sampingnya masih kosong saat bus melaju perlahan meninggalkan suara pasar dan bau tanah basah selepas hujan semalam. Tak lama, seorang gadis duduk di sebelahnya. Wajahnya teduh, berhijab, kulitnya cerah, dan matanya besar. Ia menatap jendela sejenak, lalu menyapa sopan saat Rangga mengangguk memberi ruang. “Dari Payakumbuh juga?” tanya Dika membuka percakapan. “Iya, kuliah di Bukittinggi,” jawabnya dengan suara lembut. Namanya Dina. Obrolan mereka mengalir. Basa-basi awal berubah menjadi tanya jawab yang lebih santai. Mereka bercerita tentang kuliah, keluarga, makanan favorit, dan mimpi masa depan. Tidak ada yang berlebihan, tapi juga tidak dibuat-buat. Kadang keduanya saling melempar lelucon. Dina tertawa pelan, menutup mulutnya sambil mencuri pandang ke arah Rangga. Ia tak menyangka akan merasa nyaman dengan orang a...