Langsung ke konten utama

Sebuah Inovasi Series - Alat Pemisah Kuning dan Putih Telur

Selamat malam

Malam ini saya akan melanjutkan "Sebuah Inovasi Series", sebelumnya saya sudah bahas tentang PZ, Alat Makan Pizza. Nah kali ini saya akan membahas tentang alat sederhana namun memiliki fungsi yang sangat membantu. Seperti yang saya katakan di postingan sebelumnya, mulai lah inovasi dengan sesuatu yang kecil namun memberikan dampak yang besar. 

Saya tidak tahu siapa yang pertama kali membuah alat pemisah kuning dan putih telur ini, sudah saya browsing namun tidak ketemu juga. Ada beberapa artikel yang mengatakan bahwa alat ini pertama kali masuk ke Indonesia dari Cina, ada juga yang mengatakan dari Surabaya. Mari kita lihat gambar alat pemisah kuning dan putih telur.

Biasanya untuk membuat kue, kita memisahkan kuning dan putihnya secara manual. Saya lihat ibu saya membuka telur dengan sangat hati-hati, kemudian dipisah bagian putihnya secara perlahan. Tentu membutuhkan kemampuan yang hebat, ketelitian dan timing yang pas. Saya sudah pernah coba sendiri dan sering gagal.

Alat ini memudahkan banyak ibu-ibu rumah tangga, koki bahkan untuk wanita-wanita muda yang belajar memasak. Fungsi lain, untuk kecantikan. Putih telur jelas dibutuhkan sebagai bahan master. Satu alat dengan dua fungsi, kecil, sederhana, namun banyak guna.

Mulai lah membuat inovasi, mulai dari hal kecil di sekitar kamu. Terima kasih dan semoga bermanfaat. Jangan lupa nantikan "Sebuah Inovasi Series" selanjutnya.

Kamu juga bisa pesan produk diatas disini: Alat Pemisah Kuning dan Putih Telur - KIRA Shop Padang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Jepretan Mini DV

Malem guys, kalo kamu baca nya siang ya udah gapapa, yang penting ane nge post udah tengah malam. Bodo amat, kenal juga gak *bintangtimurstyle Okeh epribadih, kali ini saya ditemani netbook baru ASUS Notebook X201E-KX161D - White  plus HUAWEI USB Modem [K3765]  cuma mau share dan upload hasil dari kamera TAFF Mini DV saya yang saya beli beberapa waktu yang lalu. Nah, ini kamera nya Kecil mungil, iye, awalnya kecewa, gila, ini mainan ya? Ish pas gue pake, mantep bener bro, gak kalah ama camdig ato SLR. Ini dia beberapa hasil jeprtan saya, Nah, gimana sob? Keren kan? Menurut saya sih keren abiis. Dari kekecewaan soal kamera yang super mungil berubah menjadi kekaguman. Yah walaupun gak kebeli SLR, menurut saya cukup lah Mini DV menjadi instrumen fotografi saya, walau gak jago-jago amat. Seperti kata-kata bijak fotografer, Biar Foto yang Bicara. Tapi ada beberapa teknik yang saya pelaja...

Cara Buka Coffee Stall Modal 5 Juta: Berdasarkan Pengalaman Pribadi & Panduan Praktis

Banyak orang berpikir membuka usaha kopi butuh modal puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal, kenyataannya tidak harus begitu. Dulu, saat pertama kali terjun ke bisnis kopi, boro-boro saya kepikiran membuat cafe yang estetis. Saya memulainya dari bawah: jualan kopi botolan dari rumah, murni hanya mengandalkan pesanan via GoFood dan GoSend. Peralatannya? Ya seadanya saja. Tapi ternyata, pelan-pelan orderan mulai stabil dan makin ramai. Dari putaran keuntungan jualan kopi botolan itu, saya memberanikan diri untuk upgrade dengan membuka booth kontainer kecil-kecilan. Respon pasarnya ternyata luar biasa! Antusiasme pembeli yang tinggi akhirnya menarik minat seorang teman untuk ikut memberikan suntikan investasi. Dari sana, booth kontainer itu perlahan berevolusi menjadi sebuah outlet permanen berukuran 3x5 meter, lengkap dengan area outdoor 3x10 meter untuk tempat pelanggan nongkrong santai. Perjalanan itu menyadarkan saya pada satu prinsip penting: mulai saja dulu dari yang keci...

Cerpen: Sebelah Kursi, Sepotong Hati

Langit Payakumbuh belum terlalu terang ketika Rangga menaiki sebuah Isuzu Elf milik PO Ayah, yang akan membawanya menuju Bukittinggi, lalu lanjut ke Padang. Kursi di sampingnya masih kosong saat bus melaju perlahan meninggalkan suara pasar dan bau tanah basah selepas hujan semalam. Tak lama, seorang gadis duduk di sebelahnya. Wajahnya teduh, berhijab, kulitnya cerah, dan matanya besar. Ia menatap jendela sejenak, lalu menyapa sopan saat Rangga mengangguk memberi ruang. “Dari Payakumbuh juga?” tanya Dika membuka percakapan. “Iya, kuliah di Bukittinggi,” jawabnya dengan suara lembut. Namanya Dina. Obrolan mereka mengalir. Basa-basi awal berubah menjadi tanya jawab yang lebih santai. Mereka bercerita tentang kuliah, keluarga, makanan favorit, dan mimpi masa depan. Tidak ada yang berlebihan, tapi juga tidak dibuat-buat. Kadang keduanya saling melempar lelucon. Dina tertawa pelan, menutup mulutnya sambil mencuri pandang ke arah Rangga. Ia tak menyangka akan merasa nyaman dengan orang a...