Langsung ke konten utama

Sebuah Inovasi Series - PZ

Malam ini saya ingin berbagi informasi tentang beberapa inovasi yang dibuat oleh anak negeri. Saya merangkumnya dalam sebuah seri dengan nama "Sebuah Inovasi".

Untuk pertama saya akan membahas Alat Makan Pizza bernama PZ. PZ dibuat oleh Quilizy Maggio De Neve (Lizzy). Kalau makan nasi pakai sendok, makan mie pakai garpu/ sumpit, kenapa makan pizza pakai tangan? Maka lahirlah PZ. Berikut data yang saya kutip dari VivaLife.




"VIVAlife - Ide bisa hadir darimana dan kapan saja. Seperti yang dilakukan Quilizy Maggio De Neve atau yang akrab disama Lizy.

Dari kegemarannya makan pizza, ia menciptakan sebuat penjepit pizza, agar bisa menikmati makanan khas Italia itu tanpa mengotori tangan. Ia membuatnya saat sedang duduk di bangku kuliah semester 3 pada 2009 lalu.

"Pizza kan makannya enak pake tangan, kalau pisau garpu tidak nikmat. Kadang males cuci tangan. Muncul ide inspirasi dari pinset untuk membatasi tangan sama pizza," katanya saat ditemui dalam peluncuran situs BiangInovasi.com di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, 9 Desember 2014.

Inovasi unik ini diberi nama PZ (dibaca pizet) yang berarti pizza pinset. Proses pembuatannya, lanjut Lizy, selama 6 bulan hingga benar-benar jadi.

Dalam proses pembuatannya, wanita lulusan desain produk ini melakukan banyak riset. Mulai dari ukuran pizza yang pas,  jari setiap orang, dan cara memegang pizza yang nyaman.

PZ ini masih berbentuk Prototipe, terbuat dari dari akrilik dan Lizy membuatnya sendiri. Beberapa tahun berselang, pada 2012 ia ikut sebuah kompetisi inovasi dan karyanya tersebut masuk 20 besar. Pada saat itu ia mempresentasikan 3 barang buatannya yaitu alat kerok dan troli.

Saat ini, Lizy tengah melakukan proses pematenan karya uniknya. "Lagi proses paten sederhana, tahun depan ada sertifikat dan rencananya mau dipasarin," katanya.

Nantinya, Lizy berencana akan memasarkan dan bekerjasama dengan investor. Selain itu dari segi desain akan lebih bermain dengan motif."

Mudah-mudahan nanti semakin banyak inovasi anak negeri. Tak harus membuat sesuatu yang mewah, yang besar. Kita bisa memulainya untuk sesuatu yang kecil tapi bermanfaat banyak. Contohnya seperti PZ yang diciptakan Lizzy.

Sebuah Inovasi Series selanjutnya akan membahas tentang Alat Pemisah Kuning dan Putih Telur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Jepretan Mini DV

Malem guys, kalo kamu baca nya siang ya udah gapapa, yang penting ane nge post udah tengah malam. Bodo amat, kenal juga gak *bintangtimurstyle Okeh epribadih, kali ini saya ditemani netbook baru ASUS Notebook X201E-KX161D - White  plus HUAWEI USB Modem [K3765]  cuma mau share dan upload hasil dari kamera TAFF Mini DV saya yang saya beli beberapa waktu yang lalu. Nah, ini kamera nya Kecil mungil, iye, awalnya kecewa, gila, ini mainan ya? Ish pas gue pake, mantep bener bro, gak kalah ama camdig ato SLR. Ini dia beberapa hasil jeprtan saya, Nah, gimana sob? Keren kan? Menurut saya sih keren abiis. Dari kekecewaan soal kamera yang super mungil berubah menjadi kekaguman. Yah walaupun gak kebeli SLR, menurut saya cukup lah Mini DV menjadi instrumen fotografi saya, walau gak jago-jago amat. Seperti kata-kata bijak fotografer, Biar Foto yang Bicara. Tapi ada beberapa teknik yang saya pelaja...

Cara Buka Coffee Stall Modal 5 Juta: Berdasarkan Pengalaman Pribadi & Panduan Praktis

Banyak orang berpikir membuka usaha kopi butuh modal puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal, kenyataannya tidak harus begitu. Dulu, saat pertama kali terjun ke bisnis kopi, boro-boro saya kepikiran membuat cafe yang estetis. Saya memulainya dari bawah: jualan kopi botolan dari rumah, murni hanya mengandalkan pesanan via GoFood dan GoSend. Peralatannya? Ya seadanya saja. Tapi ternyata, pelan-pelan orderan mulai stabil dan makin ramai. Dari putaran keuntungan jualan kopi botolan itu, saya memberanikan diri untuk upgrade dengan membuka booth kontainer kecil-kecilan. Respon pasarnya ternyata luar biasa! Antusiasme pembeli yang tinggi akhirnya menarik minat seorang teman untuk ikut memberikan suntikan investasi. Dari sana, booth kontainer itu perlahan berevolusi menjadi sebuah outlet permanen berukuran 3x5 meter, lengkap dengan area outdoor 3x10 meter untuk tempat pelanggan nongkrong santai. Perjalanan itu menyadarkan saya pada satu prinsip penting: mulai saja dulu dari yang keci...

Cerpen: Sebelah Kursi, Sepotong Hati

Langit Payakumbuh belum terlalu terang ketika Rangga menaiki sebuah Isuzu Elf milik PO Ayah, yang akan membawanya menuju Bukittinggi, lalu lanjut ke Padang. Kursi di sampingnya masih kosong saat bus melaju perlahan meninggalkan suara pasar dan bau tanah basah selepas hujan semalam. Tak lama, seorang gadis duduk di sebelahnya. Wajahnya teduh, berhijab, kulitnya cerah, dan matanya besar. Ia menatap jendela sejenak, lalu menyapa sopan saat Rangga mengangguk memberi ruang. “Dari Payakumbuh juga?” tanya Dika membuka percakapan. “Iya, kuliah di Bukittinggi,” jawabnya dengan suara lembut. Namanya Dina. Obrolan mereka mengalir. Basa-basi awal berubah menjadi tanya jawab yang lebih santai. Mereka bercerita tentang kuliah, keluarga, makanan favorit, dan mimpi masa depan. Tidak ada yang berlebihan, tapi juga tidak dibuat-buat. Kadang keduanya saling melempar lelucon. Dina tertawa pelan, menutup mulutnya sambil mencuri pandang ke arah Rangga. Ia tak menyangka akan merasa nyaman dengan orang a...