Langsung ke konten utama

Congratulations Kurniadi Ilham

Assalamualaikum
Selamat siang semua.

Akhir-akhir ini saya memang jarang sekali menulis, mungkin teman-teman lihat ada sarang laba-laba di pojok kanan atas atau ada gelandangan tidur di bawah. Haha saya becanda, gak sampai segitunya kali.

Kali ini saya pengen agak narsis dibanding biasanya, kepingin eksis juga. Beberapa waktu yang lalu saya buka akun gmail saya, sebenarnya memang setiap hari sih saya buka email. Inbox saya biasa nya cuma berisi pemberitahuan update dari beberapa website yang saya ikuti, ada juga info lowongan pekerjaan, ada juga voucher diskon dari beberapa eCommerce. Saya terhenti di satu email, biasa nya sih saya abaikan, karena isinya cuma pemberitahuan kegiatan baru di World Street Photography. 



Yang belum sempat mengikuti saya, akan saya kasih tau lagi. Saya seorang Entrepreneur, Street Photographer, Copywriter, Audio Editor, dll. Kembali ke email tadi, saya melihat tulisan Congratulations. Saya buka, saya baca, usek-usek mata, gak percaya, usek-usek mata lagi, dan saya lupa paket internet udah mau habis. Saya close tab lain, kemudian saya lihat baik-baik email tadi, ternyata saya terpilih sebagai Nominator Best Street Photography dari World Street Photography. Tentu saja saya sangat senang, karena penghargaan ini datang dari grup internasional. Walau baru masuk sebagai nominator, tapi saya merasa sangat senang, semoga nantinya bisa lolos.

Passion, Love, Life.

Sampai jumpa di postingan selanjutnya teman-teman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Jepretan Mini DV

Malem guys, kalo kamu baca nya siang ya udah gapapa, yang penting ane nge post udah tengah malam. Bodo amat, kenal juga gak *bintangtimurstyle Okeh epribadih, kali ini saya ditemani netbook baru ASUS Notebook X201E-KX161D - White  plus HUAWEI USB Modem [K3765]  cuma mau share dan upload hasil dari kamera TAFF Mini DV saya yang saya beli beberapa waktu yang lalu. Nah, ini kamera nya Kecil mungil, iye, awalnya kecewa, gila, ini mainan ya? Ish pas gue pake, mantep bener bro, gak kalah ama camdig ato SLR. Ini dia beberapa hasil jeprtan saya, Nah, gimana sob? Keren kan? Menurut saya sih keren abiis. Dari kekecewaan soal kamera yang super mungil berubah menjadi kekaguman. Yah walaupun gak kebeli SLR, menurut saya cukup lah Mini DV menjadi instrumen fotografi saya, walau gak jago-jago amat. Seperti kata-kata bijak fotografer, Biar Foto yang Bicara. Tapi ada beberapa teknik yang saya pelaja...

Cara Buka Coffee Stall Modal 5 Juta: Berdasarkan Pengalaman Pribadi & Panduan Praktis

Banyak orang berpikir membuka usaha kopi butuh modal puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal, kenyataannya tidak harus begitu. Dulu, saat pertama kali terjun ke bisnis kopi, boro-boro saya kepikiran membuat cafe yang estetis. Saya memulainya dari bawah: jualan kopi botolan dari rumah, murni hanya mengandalkan pesanan via GoFood dan GoSend. Peralatannya? Ya seadanya saja. Tapi ternyata, pelan-pelan orderan mulai stabil dan makin ramai. Dari putaran keuntungan jualan kopi botolan itu, saya memberanikan diri untuk upgrade dengan membuka booth kontainer kecil-kecilan. Respon pasarnya ternyata luar biasa! Antusiasme pembeli yang tinggi akhirnya menarik minat seorang teman untuk ikut memberikan suntikan investasi. Dari sana, booth kontainer itu perlahan berevolusi menjadi sebuah outlet permanen berukuran 3x5 meter, lengkap dengan area outdoor 3x10 meter untuk tempat pelanggan nongkrong santai. Perjalanan itu menyadarkan saya pada satu prinsip penting: mulai saja dulu dari yang keci...

Cerpen: Sebelah Kursi, Sepotong Hati

Langit Payakumbuh belum terlalu terang ketika Rangga menaiki sebuah Isuzu Elf milik PO Ayah, yang akan membawanya menuju Bukittinggi, lalu lanjut ke Padang. Kursi di sampingnya masih kosong saat bus melaju perlahan meninggalkan suara pasar dan bau tanah basah selepas hujan semalam. Tak lama, seorang gadis duduk di sebelahnya. Wajahnya teduh, berhijab, kulitnya cerah, dan matanya besar. Ia menatap jendela sejenak, lalu menyapa sopan saat Rangga mengangguk memberi ruang. “Dari Payakumbuh juga?” tanya Dika membuka percakapan. “Iya, kuliah di Bukittinggi,” jawabnya dengan suara lembut. Namanya Dina. Obrolan mereka mengalir. Basa-basi awal berubah menjadi tanya jawab yang lebih santai. Mereka bercerita tentang kuliah, keluarga, makanan favorit, dan mimpi masa depan. Tidak ada yang berlebihan, tapi juga tidak dibuat-buat. Kadang keduanya saling melempar lelucon. Dina tertawa pelan, menutup mulutnya sambil mencuri pandang ke arah Rangga. Ia tak menyangka akan merasa nyaman dengan orang a...