Langsung ke konten utama

FJB Padang dan Bisnes Internasional

Assalamualaikum sobat blogger

Sudah hampir jam 3 pagi tapi mata masih belum ngantuk. Daripada makin susah tidur mending saya bikin tulisan dulu. Sebenarnya sudah banyak yang mau saya tulis, namun ada-ada saja yang menghalangi, banyak kegiatan, ngantuk, dll.

Kali ini saya mau bahas mengenai postingan yang lagi hot di FJB Padang. Kenapa saya kasih judul FJB Padang dan Bisnes Internasional? Bukannya kalimat yang betul itu Bisnis? Gak tau lah saya cuma ngutip dari salah satu member yang komen di hot thread tersebut (udah kayak kaskus aja). 

FJB Padang sendiri adalah salah satu grup di facebook yang berfungsi sebagai wadah bagi para membernya untuk kegiatan jual beli produk (mungkin jasa juga termasuk), khusus daerah Sumatera Barat. Waktu member nya masih sekitar 5000, postingan masih normal, komentar masih normal. Seiring berjalan waktu, member bertambah, komentar mulai beragam, mulai dari yang gak penting sampai yang emang serius mau transaksi. Saya jadi ingat grup FJB Pekanbaru yang tenar, namun postingan banyak yang gak sesuai, ada yang jual kolor bekas lah, jual batu kecil depan rumahnya, sampai jual jasa esek-esek, aneh-aneh semua. Polisi FJB pun kewalahan, karena member yang banyak, postingan yang muncul tiap sebentar, gak semua bisa dikontrol. Kita balik lagi ke FJB Padang, jadi ada yang bikin iklan produk Yamaha. Pengiklan kayaknya sales Yamaha, deskripsinya jelas, kontaknya ada, fotonya ada plus cewek SPH diatas motor, lengkap semua. Fotonya gak saya masukin di tulisan saya ini karena agak seksi gimana gitu, hehe.


Nah, ini nih iklannya, ada promonya lagi. Tapi disini saya tekankan saya sama sekali tidak ada kaitan dengan pihak Yamaha & pihak pengiklan juga, ulasan ini murni saya yang buat tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Udah, kita lanjut ya ke bagian komentar. Untuk nama akun fb yang ngasih komentar saya samarkan, saya kasih kotak berwarna.

Warna Hitam : Yang komen
Warna Biru : Pengiklan
Warna Abu-Abu : Nama orang yang di mention dalam komentar
Warna Merah: Admin
Kurniadi Ilham : Saya (gak disensor)



Ini yang saya maksud bisnes internasional, hehehe gapapa lah ya, hiburan tengah malam. Komentar pun sudah semakin panas.

Makin panas nih



Postingan berujung saling caci maki, entah siapa yang salah. Semua komen dengan argumen masing-masing. Kalau saya punya pendapat sendiri, menurut saya Pengiklan tidak salah, wajar lah ada promo begitu, namanya juga strategi. Namun ngomong kasar gak akan menyelesaikan apapun. Ya kalau mau, silahkan tanya, tanya nya yang normal aja. Misalnya bisa ketemuan gak om? Kantornya dimana om? Kapan ada di kantor? Untuk tipe yang lain ada promo juga gak?. Kalau gak mau, silahkan scroll aja kebawah, cari iklan lain yang sesuai sama keinginan kamu. Jangan lupa, setiap grup pasti punya aturan, ikuti, patuhi, kalau gak suka aturannya kamu tinggal cari grup lain sesuai keinginan kamu.

Sama seperti tulisan saya ini, kamu bisa berargumen apapun, mungkin kamu juga punya pendapat sendiri yang beda dengan saya. Namun komentar itu harus lah beretika, jangan dipikir zaman demokrasi kamu bisa ngeluarin kata-kata sembarangan. Hargai orang lain, maka orang lain pasti juga akan hargain kamu. Kalau ada yang salah, ngomong baik-baik, kasih pengertian, alasan, dll, pasti jadinya enak. Kita orang Minangkabau, belajar Kato nan Ampek, belajar tata krama, dan masih banyak lagi. Kalau mau tetap ngomong kasar seperti beberapa komentar diatas, ngobrol aja noh sama orang-orangan sawah, atau sama kebo sekalian.

Sekian terima kasih.
Semoga bermanfaat bagi saya dan sobat blogger semua
Semoga menjadi pribadi yang lebih baik.
Wassalam.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Jepretan Mini DV

Malem guys, kalo kamu baca nya siang ya udah gapapa, yang penting ane nge post udah tengah malam. Bodo amat, kenal juga gak *bintangtimurstyle Okeh epribadih, kali ini saya ditemani netbook baru ASUS Notebook X201E-KX161D - White  plus HUAWEI USB Modem [K3765]  cuma mau share dan upload hasil dari kamera TAFF Mini DV saya yang saya beli beberapa waktu yang lalu. Nah, ini kamera nya Kecil mungil, iye, awalnya kecewa, gila, ini mainan ya? Ish pas gue pake, mantep bener bro, gak kalah ama camdig ato SLR. Ini dia beberapa hasil jeprtan saya, Nah, gimana sob? Keren kan? Menurut saya sih keren abiis. Dari kekecewaan soal kamera yang super mungil berubah menjadi kekaguman. Yah walaupun gak kebeli SLR, menurut saya cukup lah Mini DV menjadi instrumen fotografi saya, walau gak jago-jago amat. Seperti kata-kata bijak fotografer, Biar Foto yang Bicara. Tapi ada beberapa teknik yang saya pelaja...

Cara Buka Coffee Stall Modal 5 Juta: Berdasarkan Pengalaman Pribadi & Panduan Praktis

Banyak orang berpikir membuka usaha kopi butuh modal puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal, kenyataannya tidak harus begitu. Dulu, saat pertama kali terjun ke bisnis kopi, boro-boro saya kepikiran membuat cafe yang estetis. Saya memulainya dari bawah: jualan kopi botolan dari rumah, murni hanya mengandalkan pesanan via GoFood dan GoSend. Peralatannya? Ya seadanya saja. Tapi ternyata, pelan-pelan orderan mulai stabil dan makin ramai. Dari putaran keuntungan jualan kopi botolan itu, saya memberanikan diri untuk upgrade dengan membuka booth kontainer kecil-kecilan. Respon pasarnya ternyata luar biasa! Antusiasme pembeli yang tinggi akhirnya menarik minat seorang teman untuk ikut memberikan suntikan investasi. Dari sana, booth kontainer itu perlahan berevolusi menjadi sebuah outlet permanen berukuran 3x5 meter, lengkap dengan area outdoor 3x10 meter untuk tempat pelanggan nongkrong santai. Perjalanan itu menyadarkan saya pada satu prinsip penting: mulai saja dulu dari yang keci...

Cerpen: Sebelah Kursi, Sepotong Hati

Langit Payakumbuh belum terlalu terang ketika Rangga menaiki sebuah Isuzu Elf milik PO Ayah, yang akan membawanya menuju Bukittinggi, lalu lanjut ke Padang. Kursi di sampingnya masih kosong saat bus melaju perlahan meninggalkan suara pasar dan bau tanah basah selepas hujan semalam. Tak lama, seorang gadis duduk di sebelahnya. Wajahnya teduh, berhijab, kulitnya cerah, dan matanya besar. Ia menatap jendela sejenak, lalu menyapa sopan saat Rangga mengangguk memberi ruang. “Dari Payakumbuh juga?” tanya Dika membuka percakapan. “Iya, kuliah di Bukittinggi,” jawabnya dengan suara lembut. Namanya Dina. Obrolan mereka mengalir. Basa-basi awal berubah menjadi tanya jawab yang lebih santai. Mereka bercerita tentang kuliah, keluarga, makanan favorit, dan mimpi masa depan. Tidak ada yang berlebihan, tapi juga tidak dibuat-buat. Kadang keduanya saling melempar lelucon. Dina tertawa pelan, menutup mulutnya sambil mencuri pandang ke arah Rangga. Ia tak menyangka akan merasa nyaman dengan orang a...