Langsung ke konten utama

Street Photography Festival 2015 "Jendela Dunia Untuk Mentawai"

Mentawai dikenal sebagai negeri tato, surga wisata, surga flora dan fauna dan surganya surfer.

www.seabournsurf.com
Tato Mentawai atau Titi adalah jenis tato yang dilukis di atas tubuh orang di suku Mentawai di kepulauan Mentawai. Bagi orang Mentawai, tato merupakan busana abadi yang dapat dibawa mati. Hal ini menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke Mentawai. Mentawai pun memiliki alam yang sangat indah, flora dan fauna langka banyak ditemukan disini. Apalagi terjangan ombaknya yang sangat tinggi, menjadikan Mentawai sebagai penyelenggara World Champions Surfing Series atau Seri Kejuaraan Dunia Selancar Air yang dijadwalkan tiap bulan Agustus. Dengan adanya kejuaraan ini, Mentawai bisa menjaring 3000 wisatawan asing pada 2007. Sebanyak 60% dari wisatawan yang datang berasal dari Australia, 39% dari Amerika Serikat, dan sisanya dari Eropa, dan Asia. Wisatawan rata-rata menghabiskan US$ 2.500 selama berselancar di Mentawai.

Mentawai adalah negeri yang indah, bagaikan seorang putri yang sangat cantik. Namun kondisi rakyat disana sangat jauh dari kata mewah, apalagi dari segi pendidikan.

SD di Tinambu, Siberut, Mentawai © Zulfikar (Sawokuini Production)
Kondisi ini bagaikan luka di tubuh seorang putri nan cantik dan elok. Itik berenang dalam air mati kehausan, ayam bertelur di padi mati kelaparan. Tentu kita pernah mendengar peribahasa tadi di bangku sekolah. Keterbatasan sarana prasarana di segi pendidikan adalah salah satu hal yang menjadikan peribahasa tadi sangat cocok digunakan. Di daerah Tinambu, Siberut, satu sekolah dasar terdiri dari empat kelas. Mereka dididik oleh dua orang guru dalam satu ruangan tanpa sekat antar kelas.

Kondisi tersebut membawa Komunitas Street Photo Hunter untuk ikut andil membantu pendidikan dasar di Tinambu, Mentawai melalui media street photography. Komunitas Street Photo Hunter membentuk sebuah event bernama Street Photography Festival, Sumatera Barat dengan tema Jendela Dunia untuk Mentawai. Kegiatan ini terdiri dari empat kegiatan utama dan dua kegiatan pendukung. Kegiatan utama terdiri dari Pameran Foto, Workshop Street Photography, Photowalk dan Lelang Foto. Sedangkan untuk kegiatan pendukung ada panggung hiburan akustik dan street food. Untuk persiapan dan pelaksanaan, Street Photo Hunters menggalang dana dengan cara crowdfunding.


Street Photography Festival 2015 © Oscar Perdana (Zimper Grafika)
Ketua Pelaksana Street Photography Festival, Muhammad Ikhwan menerangkan, “Street Photography Festival, Jendela Dunia untuk Mentawai adalah sebuah kegiatan, simbol dan kunci agar bisa menyentuh banyak pihak. Kami ingin kegiatan ini menghasilkan dampak positif bagi semua orang. Pameran Foto di ruang publik bertujuan untuk menampilkan karya fotografi kepada publik. Workshop Street Photography dan Photowalk adalah sarana edukasi street photography di Sumatera Barat. Di kegiatan lelang foto, kami mengundang banyak pihak, pelaku usaha, seniman, penikmat foto, stakeholder di Sumatera Barat. Hasil lelang foto akan kita salurkan untuk sarana prasarana pendidikan dasar di Tinambu. Kami ingin membukakan jendela dunia untuk anak-anak ini, membuka jendela hati kita semua agar lebih peduli terhadap sesama. Saya yakin jika tujuan ini sampai kepada banyak orang, akan ada jendela-jendela dunia lain yang akan muncul. Seperti efek I like Monday yang menyebar seperti virus.”

Street Photography Festival 2015 akan dilaksanakan mulai tanggal 11-12 Desember 2015 di Badan Perpustakaan Daerah dan Kearsipan, Sumatera Barat. Untuk info lebih lengkap silahkan kunjungi streetphotohunters.blogspot.co.id atau hubungi 08982698071.

original post by streetphotohunters

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Jepretan Mini DV

Malem guys, kalo kamu baca nya siang ya udah gapapa, yang penting ane nge post udah tengah malam. Bodo amat, kenal juga gak *bintangtimurstyle Okeh epribadih, kali ini saya ditemani netbook baru ASUS Notebook X201E-KX161D - White  plus HUAWEI USB Modem [K3765]  cuma mau share dan upload hasil dari kamera TAFF Mini DV saya yang saya beli beberapa waktu yang lalu. Nah, ini kamera nya Kecil mungil, iye, awalnya kecewa, gila, ini mainan ya? Ish pas gue pake, mantep bener bro, gak kalah ama camdig ato SLR. Ini dia beberapa hasil jeprtan saya, Nah, gimana sob? Keren kan? Menurut saya sih keren abiis. Dari kekecewaan soal kamera yang super mungil berubah menjadi kekaguman. Yah walaupun gak kebeli SLR, menurut saya cukup lah Mini DV menjadi instrumen fotografi saya, walau gak jago-jago amat. Seperti kata-kata bijak fotografer, Biar Foto yang Bicara. Tapi ada beberapa teknik yang saya pelaja...

Cara Buka Coffee Stall Modal 5 Juta: Berdasarkan Pengalaman Pribadi & Panduan Praktis

Banyak orang berpikir membuka usaha kopi butuh modal puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal, kenyataannya tidak harus begitu. Dulu, saat pertama kali terjun ke bisnis kopi, boro-boro saya kepikiran membuat cafe yang estetis. Saya memulainya dari bawah: jualan kopi botolan dari rumah, murni hanya mengandalkan pesanan via GoFood dan GoSend. Peralatannya? Ya seadanya saja. Tapi ternyata, pelan-pelan orderan mulai stabil dan makin ramai. Dari putaran keuntungan jualan kopi botolan itu, saya memberanikan diri untuk upgrade dengan membuka booth kontainer kecil-kecilan. Respon pasarnya ternyata luar biasa! Antusiasme pembeli yang tinggi akhirnya menarik minat seorang teman untuk ikut memberikan suntikan investasi. Dari sana, booth kontainer itu perlahan berevolusi menjadi sebuah outlet permanen berukuran 3x5 meter, lengkap dengan area outdoor 3x10 meter untuk tempat pelanggan nongkrong santai. Perjalanan itu menyadarkan saya pada satu prinsip penting: mulai saja dulu dari yang keci...

Cerpen: Sebelah Kursi, Sepotong Hati

Langit Payakumbuh belum terlalu terang ketika Rangga menaiki sebuah Isuzu Elf milik PO Ayah, yang akan membawanya menuju Bukittinggi, lalu lanjut ke Padang. Kursi di sampingnya masih kosong saat bus melaju perlahan meninggalkan suara pasar dan bau tanah basah selepas hujan semalam. Tak lama, seorang gadis duduk di sebelahnya. Wajahnya teduh, berhijab, kulitnya cerah, dan matanya besar. Ia menatap jendela sejenak, lalu menyapa sopan saat Rangga mengangguk memberi ruang. “Dari Payakumbuh juga?” tanya Dika membuka percakapan. “Iya, kuliah di Bukittinggi,” jawabnya dengan suara lembut. Namanya Dina. Obrolan mereka mengalir. Basa-basi awal berubah menjadi tanya jawab yang lebih santai. Mereka bercerita tentang kuliah, keluarga, makanan favorit, dan mimpi masa depan. Tidak ada yang berlebihan, tapi juga tidak dibuat-buat. Kadang keduanya saling melempar lelucon. Dina tertawa pelan, menutup mulutnya sambil mencuri pandang ke arah Rangga. Ia tak menyangka akan merasa nyaman dengan orang a...