Langsung ke konten utama

Apakah Kamu Pohon Bambu Cina?


Ketika kamu ingin menanam pohon bambu, kamu menyiapkan tanah terbaik, kemudian menanam benih pohon bambunya, menyiraminya, kemudian memupuknya, begitu terus yang kamu lakukan sepanjang tahun.. dan pada akhirnya muncullah tunas kecil dari dalam tanah, setelah itu…..tak ada lagi yang terjadi.
Ketika kamu memutuskan untuk terus menyiraminya secara teratur, kemudian memupuknya, begitu seterusnya di tahun keduanya… ternyata sangat mengherankan…tak juga ada yang terjadi. Kemudian untuk meyakinkan diri, kamu memperhatikan dengan teliti dari berbagai sisi, barangkali ada yang tumbuh di sisi-sisi yang tak terlihat? Tapi ternyata tidak ada.
Tahun ketiga…menyiraminya, memupuknya, dengan hati-hati dan penuh cinta merawatnya, membersihkan tanah di sekelilingnya dari rumput-rumput pengganggu, namun… masih juga tak ada yang terjadi. Betapa sangat mengecewakan! Kamu sudah menanamnya dengan penuh cinta dan harap. Memilihkan tanah yang terbaik. Menyiraminya dengan sungguh-sungguh. Juga memberikan pupuk terbaik. Tapi apa balasannya? Tidak ada!
Tahun keempat…menyiraminya, memupuknya, melanjutkan mengurusnya dengan penuh cinta benih bambu yang kau tanam kemudian…tak ada juga yang terjadi.
Kemudian kau melihat ke sekeliling, menyadari bahwa tanaman lain di taman itu sudah tumbuh dengan rimbun dan suburnya, menakjubkan mata yang memandang pertumbuhan dan kehidupannya, menyejukkan hati! Tapi bagaimana dengan benih bambumu? Tidak ada yang terjadi!
Selama 4 tahun, kamu tak melihat apapun kecuali tunas kecil yang keluar dari gundukan yang tak lebih besar dari ukurannya di tahun pertamanya. Kamu bisa bernyanyi, menyemangatinya, menantangnya, menjadi marah, atau merasa frustasi. Atau mungkin kamu ingin meninjunya atau bahkan mencabut tunasnya untuk memusnahkannya! Dan persis di saat kau ingin menyerah, meletakkan kaleng penyirammu, di suatu saat di tahunnya yang kelima… ia bertumbuh! 6 minggu kemudian, pohon bambu cina itu bertumbuh 3 kaki per hari sampai mencapai ukurannya yang sempurna, yaitu 90 kaki!
HIDUP seringkali seperti layaknya pohon bambu cina. Terasa mengecewakan. Sepertinya kita sudah melakukan segalanya dengan benar, tapi tak ada sesuatu yang terjadi. Kita sudah ‘membayar harga’ dengan menyiapkan tanah terbaik, menanam benih, bersungguh-sungguh memupuk dan merawatnya, menyirami dan menyianginya, dan masih saja kita tidak melihat hasil..tidak ada sesuatu pun yang terjadi!
Tapi selama tahun-tahun panjang dimana tidak terlihat hasil itu, pohon bambu itu sebenarnya sedang membentuk sistem akar yang panjang dan dewasa yang akan menahan dan mensupport pertumbuhannya eksplosifnya. Sistem jaringan akar yang ekstensif ini membutuhkan waktu 4 tahun untuk bertumbuh sebelum batang bambu yang lembut bisa tumbuh menembus tanah dan menyongsong sinar matahari.
Percayalah… Mereka yang terus melakukan perbuatan yang benar dan tidak berputus asa, mereka yang persisten, maka hasilnya akan mengikuti.
Pohon bambu cina tidak akan menunjukkan pertumbuhan berarti selama 6-7 tahun pertama, mungkin hanya tumbuh beberapa puluh cm saja. Namun setelah waktu tersebut, pertumbuhan pohon bambu cina tidak dapat dibendung, ia tumbuh begitu cepatnya dan ukurannya bukan lagi cm melainkan meter.
Sebetulnya apa yang terjadi pada pohon bambu cina tersebut? …. Selama 6-7 tahun pertama, ia bukannya tidak mengalami pertumbuhan, hanya saja kita memang tidak melihat pertumbuhannya dengan kasat mata.
Fokus pertumbuhan pohon bambu cina pada waktu tersebut adalah pada akar, bukan pada batang. Pohon bambu cina sedang menyiapkan pondasi yang kuat agar ia bisa menopang ketinggiannya yang berpuluh-puluh meter.
Bayangkan apa yang terjadi jika pohon bambu cina tidak mempunyai akar yang cukup kuat untuk menopang ketinggiannya? Sedikit tiupan angin saja akan membuatnya tumbang.
Jika kamu seringkali mengalami kegagalan dan merasa koq jauh sekali dari kesuksesan yang kamu impikan, bukan berarti kamu tidak mengalami perkembangan. Justru kamu sedang mengalami pertumbuhan yang luar biasa di dalam diri mu. Mental mu sedang ditempa dan dipersiapkan menuju kesuksesan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Jepretan Mini DV

Malem guys, kalo kamu baca nya siang ya udah gapapa, yang penting ane nge post udah tengah malam. Bodo amat, kenal juga gak *bintangtimurstyle Okeh epribadih, kali ini saya ditemani netbook baru ASUS Notebook X201E-KX161D - White  plus HUAWEI USB Modem [K3765]  cuma mau share dan upload hasil dari kamera TAFF Mini DV saya yang saya beli beberapa waktu yang lalu. Nah, ini kamera nya Kecil mungil, iye, awalnya kecewa, gila, ini mainan ya? Ish pas gue pake, mantep bener bro, gak kalah ama camdig ato SLR. Ini dia beberapa hasil jeprtan saya, Nah, gimana sob? Keren kan? Menurut saya sih keren abiis. Dari kekecewaan soal kamera yang super mungil berubah menjadi kekaguman. Yah walaupun gak kebeli SLR, menurut saya cukup lah Mini DV menjadi instrumen fotografi saya, walau gak jago-jago amat. Seperti kata-kata bijak fotografer, Biar Foto yang Bicara. Tapi ada beberapa teknik yang saya pelaja...

Cara Buka Coffee Stall Modal 5 Juta: Berdasarkan Pengalaman Pribadi & Panduan Praktis

Banyak orang berpikir membuka usaha kopi butuh modal puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal, kenyataannya tidak harus begitu. Dulu, saat pertama kali terjun ke bisnis kopi, boro-boro saya kepikiran membuat cafe yang estetis. Saya memulainya dari bawah: jualan kopi botolan dari rumah, murni hanya mengandalkan pesanan via GoFood dan GoSend. Peralatannya? Ya seadanya saja. Tapi ternyata, pelan-pelan orderan mulai stabil dan makin ramai. Dari putaran keuntungan jualan kopi botolan itu, saya memberanikan diri untuk upgrade dengan membuka booth kontainer kecil-kecilan. Respon pasarnya ternyata luar biasa! Antusiasme pembeli yang tinggi akhirnya menarik minat seorang teman untuk ikut memberikan suntikan investasi. Dari sana, booth kontainer itu perlahan berevolusi menjadi sebuah outlet permanen berukuran 3x5 meter, lengkap dengan area outdoor 3x10 meter untuk tempat pelanggan nongkrong santai. Perjalanan itu menyadarkan saya pada satu prinsip penting: mulai saja dulu dari yang keci...

Cerpen: Sebelah Kursi, Sepotong Hati

Langit Payakumbuh belum terlalu terang ketika Rangga menaiki sebuah Isuzu Elf milik PO Ayah, yang akan membawanya menuju Bukittinggi, lalu lanjut ke Padang. Kursi di sampingnya masih kosong saat bus melaju perlahan meninggalkan suara pasar dan bau tanah basah selepas hujan semalam. Tak lama, seorang gadis duduk di sebelahnya. Wajahnya teduh, berhijab, kulitnya cerah, dan matanya besar. Ia menatap jendela sejenak, lalu menyapa sopan saat Rangga mengangguk memberi ruang. “Dari Payakumbuh juga?” tanya Dika membuka percakapan. “Iya, kuliah di Bukittinggi,” jawabnya dengan suara lembut. Namanya Dina. Obrolan mereka mengalir. Basa-basi awal berubah menjadi tanya jawab yang lebih santai. Mereka bercerita tentang kuliah, keluarga, makanan favorit, dan mimpi masa depan. Tidak ada yang berlebihan, tapi juga tidak dibuat-buat. Kadang keduanya saling melempar lelucon. Dina tertawa pelan, menutup mulutnya sambil mencuri pandang ke arah Rangga. Ia tak menyangka akan merasa nyaman dengan orang a...