Langsung ke konten utama

Hobi Sebagai Food Vlogger Mengantarkan Saya Menjadi Fasilitator Google Gapura Digital

Pekerjaan saya sehari-hari berkutat di bidang Ide, Branding dan Digital Marketing, dibawah naungan Kira Creative & Idea Consulting yang saya dirikan di tahun 2013. Pekerjaan saya di agensi ini adalah seputar SEO, SEM, branding, strategi bisnis digital, multimedia, copywriting, social media marketing, content marketing, email marketing dan growth hacking.

Sebagai agensi baru, ditambah berada di lokasi yang belum begitu "ramah" digital marketing, saya menyadari bahwa saya tidak bisa mencari klien tanpa ada portfolio. Karena itu saya membuat program mandiri di agensi saya.

Sampai detik ini, Kira Creative & Idea Consulting sudah meng-handle 11 klien dan membuat 4 program mandiri. Salah satu program mandiri ini berhasil mengantarkan saya menjadi kontributor di MaklumFoto.com.

Namun, yang ingin saya ceritakan kali ini adalah Kira Food, salah satu program mandiri yang saya buat karena saya menyenangi dunia kuliner, khususnya ya makan makan. Kira Food dibuat dengan konsep Food Vlog yang tayang di Youtube.



Sampai tulisan ini dibuat, Kira Food sudah merilis 30 video, dengan 468 Subs dan 108295 views. Lumayan lah, untuk sekelas channel baru dari Padang. Namun, angka ini ternyata punya value dimata seorang pakar SEO bernama Arief Mardianto.


Arief Mardianto adalah salah satu fasilitator Google Gapura Digital Padang. Saya sudah kenal beliau dari lama karena dia juga adalah senior saya di kampus. Arief Mardianto mengajak saya untuk ikut di Gapura Digital, karena saat itu Gapura Digital berencana mengadakan kelas Video Marketing.

Nah, buat yang bingung apa itu Gapura Digital, cek disini

Setelah saya telusuri, ternyata saya diminta untuk menjadi calon fasilitator karena Arief Mardianto tahu bahwa saya adalah seorang Food Vlogger.

Lha, padahal pekerjaan saya adalah sebagai Idea Consultant di Kira Creative & Idea Consulting, kok saya malah ditawari pekerjaan karena hobi saya sebagai Content Creator? Aneh...

Tapi dari sana, saya tahu bahwa pekerjaan bisa datang dari manapun. Walaupun video kuliner yang saya buat saya anggap sebagai hobi untuk menyalurkan ide-ide yang berseliweran layak nya flyer di otak saya, saya tidak menyangka sama sekali tawaran datang dari salah satu pakar digital marketing.

Suasana kelas Gapura Digital Padang

Saya menyanggupi tawaran tersebut, dan akhirnya saya ikut kegiatan Training the Trainer (TtT) nya Google Gapura Digital Padang. Setelah TtT, calon fasilitator diuji dan hasil nya ... Saya menjadi trainer utama untuk Modul 6 Video Marketing.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan disini, dan juga saya bisa mengenalkan agensi saya lebih luas kepada pelaku bisnis yang sudah mulai Go Digital di Padang.

Jika teman-teman pernah melihat artikel atau konten motivasi di internet, "Ubah hobi jadi uang", mungkin kisah saya ini adalah bentuk nyata dari kalimat singkat tersebut.

Bukan hanya saya saja, masih banyak kok Content Creator dan Youtuber yang sekarang juga sudah masuk ke ranah profesional seperti Arief Muhammad, Raditya Dika, Kevin Hendrawan, Ria SW, Tanboy Kun, Gerry Girianza, Mael Lee, dan masih banyak lagi.

Terus kejar impian kalian, terus lakukan apa yang kalian suka, tantang diri kalian untuk tetap berinovasi, semoga kalian juga bisa berhasil seperti saya, atau content creator lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Jepretan Mini DV

Malem guys, kalo kamu baca nya siang ya udah gapapa, yang penting ane nge post udah tengah malam. Bodo amat, kenal juga gak *bintangtimurstyle Okeh epribadih, kali ini saya ditemani netbook baru ASUS Notebook X201E-KX161D - White  plus HUAWEI USB Modem [K3765]  cuma mau share dan upload hasil dari kamera TAFF Mini DV saya yang saya beli beberapa waktu yang lalu. Nah, ini kamera nya Kecil mungil, iye, awalnya kecewa, gila, ini mainan ya? Ish pas gue pake, mantep bener bro, gak kalah ama camdig ato SLR. Ini dia beberapa hasil jeprtan saya, Nah, gimana sob? Keren kan? Menurut saya sih keren abiis. Dari kekecewaan soal kamera yang super mungil berubah menjadi kekaguman. Yah walaupun gak kebeli SLR, menurut saya cukup lah Mini DV menjadi instrumen fotografi saya, walau gak jago-jago amat. Seperti kata-kata bijak fotografer, Biar Foto yang Bicara. Tapi ada beberapa teknik yang saya pelaja...

Cara Buka Coffee Stall Modal 5 Juta: Berdasarkan Pengalaman Pribadi & Panduan Praktis

Banyak orang berpikir membuka usaha kopi butuh modal puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal, kenyataannya tidak harus begitu. Dulu, saat pertama kali terjun ke bisnis kopi, boro-boro saya kepikiran membuat cafe yang estetis. Saya memulainya dari bawah: jualan kopi botolan dari rumah, murni hanya mengandalkan pesanan via GoFood dan GoSend. Peralatannya? Ya seadanya saja. Tapi ternyata, pelan-pelan orderan mulai stabil dan makin ramai. Dari putaran keuntungan jualan kopi botolan itu, saya memberanikan diri untuk upgrade dengan membuka booth kontainer kecil-kecilan. Respon pasarnya ternyata luar biasa! Antusiasme pembeli yang tinggi akhirnya menarik minat seorang teman untuk ikut memberikan suntikan investasi. Dari sana, booth kontainer itu perlahan berevolusi menjadi sebuah outlet permanen berukuran 3x5 meter, lengkap dengan area outdoor 3x10 meter untuk tempat pelanggan nongkrong santai. Perjalanan itu menyadarkan saya pada satu prinsip penting: mulai saja dulu dari yang keci...

Cerpen: Sebelah Kursi, Sepotong Hati

Langit Payakumbuh belum terlalu terang ketika Rangga menaiki sebuah Isuzu Elf milik PO Ayah, yang akan membawanya menuju Bukittinggi, lalu lanjut ke Padang. Kursi di sampingnya masih kosong saat bus melaju perlahan meninggalkan suara pasar dan bau tanah basah selepas hujan semalam. Tak lama, seorang gadis duduk di sebelahnya. Wajahnya teduh, berhijab, kulitnya cerah, dan matanya besar. Ia menatap jendela sejenak, lalu menyapa sopan saat Rangga mengangguk memberi ruang. “Dari Payakumbuh juga?” tanya Dika membuka percakapan. “Iya, kuliah di Bukittinggi,” jawabnya dengan suara lembut. Namanya Dina. Obrolan mereka mengalir. Basa-basi awal berubah menjadi tanya jawab yang lebih santai. Mereka bercerita tentang kuliah, keluarga, makanan favorit, dan mimpi masa depan. Tidak ada yang berlebihan, tapi juga tidak dibuat-buat. Kadang keduanya saling melempar lelucon. Dina tertawa pelan, menutup mulutnya sambil mencuri pandang ke arah Rangga. Ia tak menyangka akan merasa nyaman dengan orang a...