Langsung ke konten utama

Lapangan Kerja Sedikit, Kata Siapa?



INTRO


Siang ini di tengah hiruk pikuk musik gambus di acara nikahan teman istri saya. Saya membuka TikTok dan menemukan satu konten tentang susah gampang cari kerja di era sekarang ini.


Kira-kira kontennya seperti ini:


"Saya heran dengan orang yang susah nyari kerja di hari ini. Padahal, ada banyak sekali pilihan pekerjaan yang bisa kamu dapatkan dengan mudah tanpa CV. Datanglah ke warung makan, datanglah ke outlet makan kaki lima, kamu akan menemukan pekerjaan disana mulai dari yang paling sederhana seperti mencuci piring".


PART I


Saya setuju dengan hal ini, sebenarnya ada banyak pekerjaan yang tersedia, seperti di minimarket depan rumah saya yang sampai hari ini masih menerima pegawai toko.


Tapi... ada baiknya saya membaca kolom komentar juga!


Ada yang setuju, ada juga yang tidak. Tapi ada satu komentar menarik yang mengatakan "lo semua pada bilang gak ada kerjaan karena lo mau upah yang tinggi dan pekerjaannya gak malu-maluin kan?"


Ini juga saya setuju, karena saya menemukan hal semacam ini di lingkungan pertemanan saya.


PART II


Apakah saya orang yang setuju dengan konten ini?


Walaupun ada ribuan yang tidak setuju, saya termasuk yang setuju. Karena saya juga sudah mengalami. Begitupun ada banyak pengusaha sukses diluar sana yang mengalami kejadian serupa.


Sudono Salim, pendiri Indofood, dulu jadi buruh pabrik kerupuk.


Tommy Winata, yang punya SCBD, pernah jadi kuli bangunan untuk bisa bertahan hidup di masa mudanya.


Bahkan, Chef Juna dulu awalnya juga jadi kang cuci piring sebelum bisa jadi Chef terkenal.


CONCLUSION


Kenapa mereka bisa berhasil? Karena mereka mau merintis dari bawah, mau belajar, mau membangun relasi.


Gaji kecil di awal tidak masalah, yang penting kamu kerja halal.


Percaya deh, kalaupun memang apa yang kamu kerjakan melebihi uang yang kamu terima, kamu akan mendapatkan manfaat dalam bentuk kesehatan, kebahagiaan, relasi dan kesempatan.


BONUS


Bagi kamu yang membaca tulisan ini dan butuh pekerjaan, atau kamu punya teman yang sedang membutuhkan pekerjaan. Saya ada informasi lowongan kerja sebagai Sales di Perumahan Aruville Cluster by PT. Diawara Mulia Wyasa di Kota Padang.


Tenang aja, persyaratannya gak aneh-aneh, gak pake batas-batasan usia dan pengalaman, yang penting kamu mau dan butuh.


Kirimkan CV kamu ke nomor WhatsApp +62 813-6545-3519

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Jepretan Mini DV

Malem guys, kalo kamu baca nya siang ya udah gapapa, yang penting ane nge post udah tengah malam. Bodo amat, kenal juga gak *bintangtimurstyle Okeh epribadih, kali ini saya ditemani netbook baru ASUS Notebook X201E-KX161D - White  plus HUAWEI USB Modem [K3765]  cuma mau share dan upload hasil dari kamera TAFF Mini DV saya yang saya beli beberapa waktu yang lalu. Nah, ini kamera nya Kecil mungil, iye, awalnya kecewa, gila, ini mainan ya? Ish pas gue pake, mantep bener bro, gak kalah ama camdig ato SLR. Ini dia beberapa hasil jeprtan saya, Nah, gimana sob? Keren kan? Menurut saya sih keren abiis. Dari kekecewaan soal kamera yang super mungil berubah menjadi kekaguman. Yah walaupun gak kebeli SLR, menurut saya cukup lah Mini DV menjadi instrumen fotografi saya, walau gak jago-jago amat. Seperti kata-kata bijak fotografer, Biar Foto yang Bicara. Tapi ada beberapa teknik yang saya pelaja...

Cara Buka Coffee Stall Modal 5 Juta: Berdasarkan Pengalaman Pribadi & Panduan Praktis

Banyak orang berpikir membuka usaha kopi butuh modal puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal, kenyataannya tidak harus begitu. Dulu, saat pertama kali terjun ke bisnis kopi, boro-boro saya kepikiran membuat cafe yang estetis. Saya memulainya dari bawah: jualan kopi botolan dari rumah, murni hanya mengandalkan pesanan via GoFood dan GoSend. Peralatannya? Ya seadanya saja. Tapi ternyata, pelan-pelan orderan mulai stabil dan makin ramai. Dari putaran keuntungan jualan kopi botolan itu, saya memberanikan diri untuk upgrade dengan membuka booth kontainer kecil-kecilan. Respon pasarnya ternyata luar biasa! Antusiasme pembeli yang tinggi akhirnya menarik minat seorang teman untuk ikut memberikan suntikan investasi. Dari sana, booth kontainer itu perlahan berevolusi menjadi sebuah outlet permanen berukuran 3x5 meter, lengkap dengan area outdoor 3x10 meter untuk tempat pelanggan nongkrong santai. Perjalanan itu menyadarkan saya pada satu prinsip penting: mulai saja dulu dari yang keci...

Cerpen: Sebelah Kursi, Sepotong Hati

Langit Payakumbuh belum terlalu terang ketika Rangga menaiki sebuah Isuzu Elf milik PO Ayah, yang akan membawanya menuju Bukittinggi, lalu lanjut ke Padang. Kursi di sampingnya masih kosong saat bus melaju perlahan meninggalkan suara pasar dan bau tanah basah selepas hujan semalam. Tak lama, seorang gadis duduk di sebelahnya. Wajahnya teduh, berhijab, kulitnya cerah, dan matanya besar. Ia menatap jendela sejenak, lalu menyapa sopan saat Rangga mengangguk memberi ruang. “Dari Payakumbuh juga?” tanya Dika membuka percakapan. “Iya, kuliah di Bukittinggi,” jawabnya dengan suara lembut. Namanya Dina. Obrolan mereka mengalir. Basa-basi awal berubah menjadi tanya jawab yang lebih santai. Mereka bercerita tentang kuliah, keluarga, makanan favorit, dan mimpi masa depan. Tidak ada yang berlebihan, tapi juga tidak dibuat-buat. Kadang keduanya saling melempar lelucon. Dina tertawa pelan, menutup mulutnya sambil mencuri pandang ke arah Rangga. Ia tak menyangka akan merasa nyaman dengan orang a...